Ringkasan aktivitas redaksi Petang Republik hari ini.
Buka antrean →
0Berita terbit
0Video terbit
0Galeri terbit
0Opini terbit
0Total dilihat
Komposisi Konten
Kategori Teratas dari konten terbaru
Konten Terbaru
Paling Banyak Dilihat dari konten terbaru
Optimalkan Gambar & Database
Memindahkan foto lama (yang tersimpan sebagai teks di database) menjadi berkas ringan, supaya situs tetap cepat walau artikel sudah puluhan ribu. Aman dijalankan berulang; jika terhenti, klik lagi untuk melanjutkan.
Belum dijalankan.
Aksi Cepat
Tulis Berita / Karya
Untuk puisi: tekan Shift+Enter untuk pindah baris dalam satu bait, Enter untuk bait baru. Pilih kategori "Puisi & Sastra" agar tampil rata tengah.
0 kata
Kirim Video
Kelola Opini & Editorial Beranda
Berita yang Sudah Terbit
Video yang Sudah Terbit
Kirim Galeri Foto
0 / 12 foto
Galeri yang Sudah Terbit
Profil Admin
Foto tampil di panel admin dan di kartu penulis artikel jika nama penulis sama dengan nama tampil ini.
Antrean Verifikasi Tulisan
Tulisan dari penulis masuk ke sini dan tidak terbit otomatis. Editor menyunting dan memverifikasi, lalu admin menetapkan layak atau tidak layak terbit dan memberi tahu penulis.
Tinjau Tulisan
Beri tahu penulis
Susunan Redaksi
Ubah nama, jabatan, bio, dan foto. Susunan ini tampil sebagai slide di halaman Redaksi. Anggota yang namanya kosong tidak ditampilkan.
Daftar Opini & Editorial Terbit
Satu Kain, Banyak Makna: Mengapa Fashion Tradisional Dimaknai Berbeda oleh Konsumen?
Opini - ¹Melany Dini Alkhalifi, ²Mohamad Irfan Arjuna Kusumah, ³Muhammad Azkar Rasya Barley, ⁴ Nazira Sabita -
Foto: Ilustrasi Gambar (Sumber: Artificial Intelligence )
Di tengah perkembangan dunia
fashion yang semakin modern, pakaian bermotif tradisional seperti batik tetap
memiliki tempat tersendiri di masyarakat. Bagi sebagian orang, batik merupakan
simbol kebanggaan budaya dan identitas bangsa. Namun, bagi sebagian lainnya,
terutama anak muda, batik terkadang dianggap terlalu formal dan hanya cocok
digunakan dalam acara tertentu. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa
sebuah produk tidak selalu memiliki makna yang sama bagi setiap konsumen.
Menurut kami, pakaian bukan
hanya barang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga
menjadi sarana untuk menunjukkan identitas, selera, dan cara seseorang
memandang dirinya sendiri. Oleh karena itu, memahami perilaku konsumen tidak cukup
hanya dengan melihat harga dan kualitas produk. Budaya serta lingkungan sosial
juga memiliki peran penting dalam membentuk keputusan seseorang ketika memilih
pakaian.
Konsumsi sering kali
dipahami sebagai kegiatan membeli dan menggunakan barang untuk memenuhi
kebutuhan. Padahal, konsumsi juga berkaitan dengan makna yang diberikan
seseorang terhadap barang tersebut. Dalam konteks fashion tradisional, motif
dan desain pakaian dapat menyimpan nilai sejarah, identitas, serta kebanggaan
terhadap budaya tertentu.
Sebagai contoh, seseorang
yang mengenakan batik untuk menghadiri acara keluarga mungkin ingin menunjukkan
penghormatan terhadap tradisi. Sementara itu, orang lain mengenakan batik
karena menyukai desainnya dan ingin tampil berbeda. Keduanya menggunakan produk
yang sama, tetapi memiliki alasan dan makna yang berbeda.
Menurut kami, hal ini
membuktikan bahwa keputusan konsumsi tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan
fungsional. Konsumen juga mempertimbangkan perasaan, pengalaman, dan makna
pribadi ketika memilih suatu produk. Dengan demikian, budaya memiliki peran penting
dalam menentukan bagaimana seseorang memandang dan menggunakan barang yang
dimilikinya.
Salah satu faktor yang
memengaruhi cara konsumen memandang pakaian tradisional adalah kedekatan mereka
dengan budaya tersebut. Bagi masyarakat yang tumbuh dengan tradisi tertentu,
motif kain dapat menjadi simbol identitas dan kebanggaan terhadap asal-usul
mereka. Sebaliknya, bagi konsumen yang tidak memiliki ikatan budaya yang kuat
dengan motif tersebut, daya tariknya mungkin lebih terletak pada keindahan
desain dan warna.
Batik merupakan contoh nyata
bagaimana pakaian dapat berfungsi sebagai identitas budaya. Selain memiliki
nilai estetika, batik juga menjadi salah satu bentuk warisan budaya yang perlu
dijaga keberlangsungannya. Penggunaannya dapat menunjukkan rasa bangga terhadap
budaya Indonesia.
Namun, menurut kami,
kecintaan terhadap budaya tidak harus selalu ditunjukkan melalui cara
berpakaian yang sama. Setiap generasi dapat memiliki cara tersendiri untuk
menghargai warisan budaya. Hal terpenting adalah bagaimana masyarakat tetap
mengenali dan menghormati nilai yang terkandung di dalamnya.
Selain budaya, kelas sosial
juga dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam membeli pakaian. Perbedaan
kondisi ekonomi, lingkungan pergaulan, pendidikan, dan kebiasaan dapat
membentuk selera fashion yang berbeda-beda.
Dalam kehidupan sehari-hari,
perbedaan tersebut dapat terlihat dari pilihan pakaian dan kebiasaan
penggunaannya. Sebagian konsumen bersedia membeli kain tradisional dengan harga
lebih tinggi karena menghargai kualitas dan nilai seninya. Sementara itu, konsumen
lain lebih mempertimbangkan harga, kenyamanan, dan kemudahan memadukan pakaian
dengan koleksi yang sudah dimiliki.
Status sosial juga
berpengaruh terhadap cara seseorang menggunakan fashion. Pakaian bermotif
tradisional dapat memberikan kesan rapi, sopan, dan menghormati acara yang
dihadiri. Akan tetapi, dalam lingkungan pergaulan anak muda, pakaian yang
terlalu formal terkadang dianggap kurang sesuai untuk aktivitas santai.
Menurut kami, perbedaan
tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menilai selera suatu kelompok
lebih baik daripada kelompok lainnya. Setiap konsumen memiliki kebutuhan dan
pertimbangan yang berbeda. Karena itu, pilihan fashion perlu dipahami berdasarkan
situasi dan lingkungan sosial masing-masing.
Perkembangan tren fashion
menunjukkan bahwa pakaian tradisional sebenarnya dapat mengikuti perubahan
zaman. Salah satu contohnya adalah tren berkain di kalangan Generasi Z, ketika
kain tradisional dipadukan dengan pakaian modern untuk menghasilkan penampilan
yang lebih santai.
Fenomena ini menunjukkan
bahwa generasi muda tidak selalu menolak tradisi. Mereka justru dapat
memperkenalkan kembali budaya melalui gaya yang sesuai dengan kehidupan
sehari-hari. Media sosial juga membantu menyebarkan inspirasi berpakaian
sehingga kain tradisional semakin dikenal oleh berbagai kalangan.
Menurut kami, modernisasi
dapat menjadi peluang untuk memperluas penggunaan pakaian tradisional. Batik
tidak harus selalu dipadukan dengan pakaian formal, tetapi juga dapat digunakan
bersama kaus, celana kasual, atau aksesori modern. Dengan begitu, pakaian
tradisional dapat terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
Meskipun demikian, inovasi
tetap harus dilakukan dengan menghormati nilai budaya. Motif yang memiliki
makna adat atau sakral tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai hiasan tanpa
memahami latar belakangnya. Perkembangan fashion sebaiknya berjalan seiring
dengan upaya menjaga nilai budaya.
Perbedaan makna fashion
tradisional juga menjadi pelajaran penting bagi pelaku usaha. Produk yang sama
belum tentu mendapatkan respons yang sama dari seluruh kelompok konsumen.
Karena itu, strategi pemasaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan cara
pandang masing-masing kelompok.
Pelaku usaha dapat
menawarkan koleksi formal untuk acara keluarga dan kegiatan budaya, sekaligus
menghadirkan koleksi kasual untuk penggunaan sehari-hari. Promosi juga dapat
dibuat lebih beragam. Bagi konsumen yang tertarik pada nilai budaya, perusahaan
dapat menjelaskan sejarah dan makna motif. Sementara itu, bagi konsumen muda,
promosi dapat menampilkan inspirasi padu padan dan penggunaan produk dalam
aktivitas sehari-hari.
Media sosial dapat
dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun kesadaran terhadap
budaya tradisional. Namun, perusahaan juga perlu mendengarkan pendapat konsumen
agar produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pada akhirnya, fashion
bermotif tradisional menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya berkaitan dengan
aktivitas ekonomi, tetapi juga dengan budaya, identitas, kelas sosial, dan
status sosial. Satu produk dapat dimaknai sebagai simbol kebanggaan budaya,
pakaian formal, atau bagian dari gaya sehari-hari, bergantung pada latar
belakang konsumennya.
Menurut kami, pelestarian
budaya dan perkembangan fashion modern tidak harus dipertentangkan. Keduanya
dapat berjalan berdampingan melalui inovasi yang tetap menghormati nilai
tradisional. Dengan memahami perbedaan cara pandang konsumen, pelaku usaha dapat
mengembangkan strategi pemasaran yang lebih tepat, sementara masyarakat dapat
terus memperkenalkan warisan budaya kepada generasi berikutnya.
Sebab, nilai sebuah kain
tidak hanya terletak pada motif yang terlihat, tetapi juga pada cerita,
identitas, dan makna yang dibawa oleh orang yang mengenakannya.
Penulis:
Melany Dini Alkhalifi, Mohamad Irfan Arjuna Kusumah, Muhammad Azkar Rasya
Barley, Nawra Nazira Sabita (Mahasiswa Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Pamulang)
Dosen Pengampu: Dewi Ulfah Arini, S.Psi.,
M.Psi., M.M
¹Melany Dini Alkhalifi, ²Mohamad Irfan Arjuna Kusumah, ³Muhammad Azkar Rasya Barley, ⁴ Nazira Sabita • Editor: Eko Subianto
BREAKING NEWSInvestigasi gabungan diperluas pasca penahanan di kawasan perbatasan strategis.
KONTRATERORISME
Polisi Inggris menangkap tersangka 'penting' di dekat pangkalan udara AS, kunci perang melawan Iran.
Kepolisian Gloucestershire menyatakan insiden besar ketika tim penjinak bahan peledak Angkatan Darat memeriksa kendaraan di dekat pangkalan... (Klik untuk membaca lengkap)
Evaluasi Protokol Pengamanan Wilayah dan Perimeter Fasilitas Vital
Analisis mendalam mengenai kesiapsiagaan operasional aparat pengamanan kawasan.
Pertemuan Tingkat Tinggi Bahas Kebijakan Pengawasan Koridor
Alokasi penanganan potensi ancaman lintas wilayah mulai dirumuskan.
Geopolitik Migas: Negosiasi Koridor Pasokan Alternatif Menjelang Kuartal Baru
Kondisi jalur maritim mendorong sejumlah negara mempercepat diversifikasi rute impor energi nasional.
Audit Infrastruktur Kritis Diperketat Pasca Anomali Jaringan Radar Udara
Kementerian Pertahanan memperbarui sertifikasi proteksi data seluruh simpul kendali lalu lintas udara.
Pilihan Redaksi & Analisis
Anatomi Kerentanan Wilayah Udara: Bagaimana Pangkalan Militer Menghadapi Spionase Modern
Laporan investigasi mendalam mengulas metode pengawasan berteknologi baru, strategi perimeter, serta risiko instabilitas di kawasan transit penting.
GLOUCESTERSHIRE — Kepolisian setempat telah menahan seorang tersangka kunci di dekat pangkalan militer yang kerap dimanfaatkan bersama oleh armada Amerika Serikat dan Inggris[span_9](start_span)[span_9](end_span). Penahanan ini menyusul laporan aktivitas mencurigakan yang terdeteksi di sekitar perimeter pengamanan[span_10](start_span)[span_10](end_span).
Saksi mata melaporkan bahwa sejumlah kendaraan patroli bersenjata lengkap diterjunkan ke lokasi sekitar pukul 05.00 waktu setempat, disertai penutupan jalan-jalan arteri yang mengarah ke pintu gerbang fasilitas penerbangan tersebut[span_11](start_span)[span_11](end_span).
Pangkalan udara ini diketahui memiliki peran strategis dalam rantai logistik dan operasi udara lintas kawasan di Timur Tengah[span_12](start_span)[span_12](end_span). Menanggapi perkembangan tersebut, pihak berwenang menegaskan bahwa investigasi intensif tengah dilakukan[span_13](start_span)[span_13](end_span).
Anders Hagstrom
Koresponden Pertahanan & Investigasi Petang Republik