Ringkasan aktivitas redaksi Petang Republik hari ini.
Buka antrean →
0Berita terbit
0Video terbit
0Galeri terbit
0Opini terbit
0Total dilihat
Komposisi Konten
Kategori Teratas dari konten terbaru
Konten Terbaru
Paling Banyak Dilihat dari konten terbaru
Optimalkan Gambar & Database
Memindahkan foto lama (yang tersimpan sebagai teks di database) menjadi berkas ringan, supaya situs tetap cepat walau artikel sudah puluhan ribu. Aman dijalankan berulang; jika terhenti, klik lagi untuk melanjutkan.
Belum dijalankan.
Aksi Cepat
Tulis Berita / Karya
Untuk puisi: tekan Shift+Enter untuk pindah baris dalam satu bait, Enter untuk bait baru. Pilih kategori "Puisi & Sastra" agar tampil rata tengah.
0 kata
Kirim Video
Kelola Opini & Editorial Beranda
Berita yang Sudah Terbit
Video yang Sudah Terbit
Kirim Galeri Foto
0 / 12 foto
Galeri yang Sudah Terbit
Profil Admin
Foto tampil di panel admin dan di kartu penulis artikel jika nama penulis sama dengan nama tampil ini.
Antrean Verifikasi Tulisan
Tulisan dari penulis masuk ke sini dan tidak terbit otomatis. Editor menyunting dan memverifikasi, lalu admin menetapkan layak atau tidak layak terbit dan memberi tahu penulis.
Tinjau Tulisan
Beri tahu penulis
Susunan Redaksi
Ubah nama, jabatan, bio, dan foto. Susunan ini tampil sebagai slide di halaman Redaksi. Anggota yang namanya kosong tidak ditampilkan.
Daftar Opini & Editorial Terbit
Kurang Tidur Bukan Sekadar Ngantuk: Apa Dampaknya bagi Otak dan Tubuh Gen Z?
Kesehatan - Rajendra Filbert Brian Haryonoputro -
Foto: Ilustrasi Gambar (Sumber: iStockphoto )
Pernah berniat
tidur sebentar setelah belajar, tetapi akhirnya bermain ponsel sampai lewat
tengah malam? Keesokan paginya, alarm terasa mengganggu, tubuh terasa lemas,
dan materi kuliah sulit dipahami. Situasi seperti ini tentu tidak asing bagi
banyak mahasiswa dan Gen Z. Tugas yang menumpuk, kebiasaan bermain media
sosial, hingga keinginan menonton satu episode lagi sering membuat waktu tidur
menjadi korban.
Sebagian orang
menganggap begadang sebagai hal biasa, bahkan terkadang dianggap sebagai tanda
produktivitas. Padahal, tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Tidur
merupakan kebutuhan biologis yang berperan penting dalam menjaga fungsi otak,
kestabilan emosi, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Lalu, apa yang
sebenarnya terjadi ketika kita terus-menerus mengurangi waktu tidur?
Berapa
Lama Sebenarnya Kita Perlu Tidur?
Kebutuhan tidur
setiap orang berbeda berdasarkan usia. Menurut rekomendasi American Academy of
Sleep Medicine, remaja berusia 13–18 tahun dianjurkan tidur selama 8–10 jam
setiap malam. Sementara itu, orang dewasa umumnya membutuhkan setidaknya tujuh
jam tidur secara teratur untuk mendukung kesehatan yang optimal (Paruthi et
al., 2016; Watson et al., 2015).
Sayangnya, tuntutan
akademik dan kebiasaan menggunakan perangkat elektronik sering membuat waktu
tidur tidak terpenuhi. Ada mahasiswa yang tidur hanya empat atau lima jam
karena harus menyelesaikan tugas atau mempersiapkan ujian.
Jika kondisi ini
terjadi sesekali, seseorang mungkin masih dapat menjalani aktivitasnya meskipun
merasa lelah. Namun, apabila kekurangan tidur berlangsung terus-menerus,
dampaknya dapat menumpuk dan mulai mengganggu kemampuan tubuh untuk berfungsi
dengan baik.
Otak
yang Lelah Akan Kesulitan Belajar
Salah satu organ
yang paling terpengaruh oleh kurang tidur adalah otak. Ketika tidur, otak tetap
aktif menjalankan berbagai proses penting, termasuk membantu mengolah informasi
dan memperkuat ingatan. Proses ini dikenal sebagai konsolidasi memori, yaitu proses
ketika informasi yang dipelajari diperkuat agar lebih mudah diingat kembali.
Karena itu, belajar
semalaman tidak selalu menjadi strategi yang efektif. Seseorang mungkin
menghabiskan berjam-jam membaca materi, tetapi kurang tidur dapat membuatnya
sulit berkonsentrasi, mengingat informasi, dan mengambil keputusan dengan
tepat.
Menurut National
Heart, Lung, and Blood Institute, kekurangan tidur dapat memengaruhi kemampuan
belajar, fokus, reaksi, dan pengendalian emosi. Dampaknya juga dapat terlihat
dalam kegiatan sehari-hari, misalnya lebih mudah melakukan kesalahan ketika
mengerjakan soal atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami penjelasan
dosen.
Hal ini menunjukkan
bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu seseorang
belajar, tetapi juga oleh kondisi tubuh dan otaknya ketika belajar. Tidur yang
cukup justru dapat menjadi bagian penting dari strategi belajar yang lebih
efektif.
Dampaknya
Tidak Berhenti pada Rasa Kantuk
Kurang tidur tidak
hanya memengaruhi konsentrasi, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan fisik dan
mental. Tidur berperan dalam pengaturan metabolisme, sistem kekebalan tubuh,
tekanan darah, serta berbagai proses hormonal.
Dalam jangka
panjang, kebiasaan tidur yang tidak mencukupi dikaitkan dengan peningkatan
risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit
kardiovaskular, dan gangguan suasana hati. Hubungan tersebut tidak berarti
setiap orang yang begadang pasti mengalami penyakit tersebut. Risiko kesehatan
dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, kondisi
medis, dan kebiasaan hidup lainnya.
Dari sisi kesehatan
mental, kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah merasa kesal, sulit
mengendalikan emosi, dan kurang mampu menghadapi tekanan. Bagi mahasiswa yang
sedang menjalani banyak kegiatan akademik maupun organisasi, kondisi ini dapat membuat
aktivitas sehari-hari terasa semakin berat.
Selain itu, rasa
kantuk juga dapat membahayakan keselamatan. Ketika mengendarai sepeda motor
atau mobil, seseorang membutuhkan konsentrasi dan kemampuan bereaksi dengan
cepat. Kurang tidur dapat menurunkan kewaspadaan dan memperlambat respons
terhadap situasi di jalan. Mengonsumsi kopi mungkin membuat seseorang merasa
lebih segar untuk sementara, tetapi tidak selalu memulihkan kemampuan yang
terganggu akibat kekurangan tidur.
Bagaimana
Cara Memperbaiki Pola Tidur?
Kabar baiknya,
memperbaiki pola tidur dapat dimulai melalui perubahan kecil yang dilakukan
secara konsisten. Tidak perlu langsung mengubah seluruh kebiasaan dalam satu
malam. Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba oleh Gen Z.
Pertama, tentukan
jadwal tidur dan bangun yang konsisten. Usahakan tidur dan bangun pada waktu
yang relatif sama setiap hari, termasuk pada akhir pekan. Kebiasaan ini
membantu tubuh membangun ritme tidur yang lebih teratur.
Kedua, kurangi
penggunaan ponsel menjelang tidur. Notifikasi, video pendek, dan media sosial
dapat membuat seseorang terus terjaga lebih lama daripada yang direncanakan.
Cobalah menetapkan waktu berhenti menggunakan ponsel dan melakukan kegiatan
yang lebih menenangkan sebelum tidur.
Ketiga, perhatikan
konsumsi kafein. Kopi, teh, minuman energi, dan beberapa minuman lainnya
mengandung kafein yang dapat mengganggu tidur, terutama jika dikonsumsi
mendekati waktu tidur. Jika mengalami kesulitan tidur, cobalah membatasi
konsumsi kafein pada sore dan malam hari.
Keempat, atur waktu
belajar dengan lebih realistis. Pecah tugas besar menjadi beberapa bagian kecil
dan kerjakan secara bertahap. Menyelesaikan tugas lebih awal dapat mengurangi
kebiasaan begadang karena pekerjaan yang menumpuk pada malam terakhir.
Kelima, jangan
abaikan gangguan tidur yang menetap. Jika kesulitan tidur terus berulang,
sering terbangun pada malam hari, atau mengalami kantuk berat sampai mengganggu
aktivitas, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Langkah-langkah
tersebut bukan jaminan bahwa semua masalah tidur akan langsung teratasi. Namun,
kebiasaan yang konsisten dapat membantu membangun pola tidur yang lebih sehat.
Tidur Cukup Bukan Berarti
Malas
Di tengah budaya
yang sering mengagungkan kesibukan, tidur terkadang dianggap sebagai kegiatan
yang mengurangi produktivitas. Padahal, menjaga waktu tidur merupakan salah
satu bentuk investasi terhadap kesehatan diri sendiri.
Bagi Gen Z,
terutama mahasiswa, menjaga kesehatan tidak harus selalu dimulai dari perubahan
besar. Kita dapat memulainya dengan menetapkan waktu tidur, mengatur jadwal
belajar, dan mengurangi kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam.
Jangan menunggu
tubuh kelelahan untuk mulai memperbaiki kebiasaan tidur. Malam ini, cobalah
menentukan waktu berhenti belajar dan berikan tubuh kesempatan untuk
beristirahat dengan cukup. Sebab, menjadi produktif bukan berarti harus terus
terjaga, melainkan mampu menjalani aktivitas dengan tubuh yang sehat dan
pikiran yang siap.
Tidur bukanlah
penghalang kesuksesan. Tidur yang cukup merupakan salah satu cara untuk menjaga
kesehatan dan mendukung kita mencapai potensi terbaik.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
American Academy of Sleep
Medicine. (n.d.). Sleep education. https://sleepeducation.org/
2.
Centers for Disease Control and
Prevention. (2024). About sleep. https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html
3.
National Heart, Lung, and Blood
Institute. (2022). Sleep deprivation and deficiency. National
Institutes of
Health. https://www.nhlbi.nih.gov/health/sleep-deprivation
4.
National Heart, Lung, and Blood
Institute. (n.d.). Healthy sleep habits. National Institutes of
6.
Paruthi, S., Brooks, L. J.,
D’Ambrosio, C., et al. (2016). Recommended amount of sleep for pediatric
populations: A consensus recommendation of the American Academy of Sleep
Medicine. Journal
of Clinical Sleep Medicine, 12(6), 785–786. https://doi.org/10.5664/jcsm.5866
Rajendra Filbert Brian HaryonoputroMahasiswa Universitas Airlangga
BREAKING NEWSInvestigasi gabungan diperluas pasca penahanan di kawasan perbatasan strategis.
KONTRATERORISME
Polisi Inggris menangkap tersangka 'penting' di dekat pangkalan udara AS, kunci perang melawan Iran.
Kepolisian Gloucestershire menyatakan insiden besar ketika tim penjinak bahan peledak Angkatan Darat memeriksa kendaraan di dekat pangkalan... (Klik untuk membaca lengkap)
Evaluasi Protokol Pengamanan Wilayah dan Perimeter Fasilitas Vital
Analisis mendalam mengenai kesiapsiagaan operasional aparat pengamanan kawasan.
Pertemuan Tingkat Tinggi Bahas Kebijakan Pengawasan Koridor
Alokasi penanganan potensi ancaman lintas wilayah mulai dirumuskan.
Geopolitik Migas: Negosiasi Koridor Pasokan Alternatif Menjelang Kuartal Baru
Kondisi jalur maritim mendorong sejumlah negara mempercepat diversifikasi rute impor energi nasional.
Audit Infrastruktur Kritis Diperketat Pasca Anomali Jaringan Radar Udara
Kementerian Pertahanan memperbarui sertifikasi proteksi data seluruh simpul kendali lalu lintas udara.
Pilihan Redaksi & Analisis
Anatomi Kerentanan Wilayah Udara: Bagaimana Pangkalan Militer Menghadapi Spionase Modern
Laporan investigasi mendalam mengulas metode pengawasan berteknologi baru, strategi perimeter, serta risiko instabilitas di kawasan transit penting.
GLOUCESTERSHIRE — Kepolisian setempat telah menahan seorang tersangka kunci di dekat pangkalan militer yang kerap dimanfaatkan bersama oleh armada Amerika Serikat dan Inggris[span_9](start_span)[span_9](end_span). Penahanan ini menyusul laporan aktivitas mencurigakan yang terdeteksi di sekitar perimeter pengamanan[span_10](start_span)[span_10](end_span).
Saksi mata melaporkan bahwa sejumlah kendaraan patroli bersenjata lengkap diterjunkan ke lokasi sekitar pukul 05.00 waktu setempat, disertai penutupan jalan-jalan arteri yang mengarah ke pintu gerbang fasilitas penerbangan tersebut[span_11](start_span)[span_11](end_span).
Pangkalan udara ini diketahui memiliki peran strategis dalam rantai logistik dan operasi udara lintas kawasan di Timur Tengah[span_12](start_span)[span_12](end_span). Menanggapi perkembangan tersebut, pihak berwenang menegaskan bahwa investigasi intensif tengah dilakukan[span_13](start_span)[span_13](end_span).
Anders Hagstrom
Koresponden Pertahanan & Investigasi Petang Republik