Ringkasan aktivitas redaksi Petang Republik hari ini.
Buka antrean →
0Berita terbit
0Video terbit
0Galeri terbit
0Opini terbit
0Total dilihat
Komposisi Konten
Kategori Teratas dari konten terbaru
Konten Terbaru
Paling Banyak Dilihat dari konten terbaru
Optimalkan Gambar & Database
Memindahkan foto lama (yang tersimpan sebagai teks di database) menjadi berkas ringan, supaya situs tetap cepat walau artikel sudah puluhan ribu. Aman dijalankan berulang; jika terhenti, klik lagi untuk melanjutkan.
Belum dijalankan.
Aksi Cepat
Tulis Berita / Karya
Untuk puisi: tekan Shift+Enter untuk pindah baris dalam satu bait, Enter untuk bait baru. Pilih kategori "Puisi & Sastra" agar tampil rata tengah.
0 kata
Kirim Video
Kelola Opini & Editorial Beranda
Berita yang Sudah Terbit
Video yang Sudah Terbit
Kirim Galeri Foto
0 / 12 foto
Galeri yang Sudah Terbit
Profil Admin
Foto tampil di panel admin dan di kartu penulis artikel jika nama penulis sama dengan nama tampil ini.
Antrean Verifikasi Tulisan
Tulisan dari penulis masuk ke sini dan tidak terbit otomatis. Editor menyunting dan memverifikasi, lalu admin menetapkan layak atau tidak layak terbit dan memberi tahu penulis.
Tinjau Tulisan
Beri tahu penulis
Susunan Redaksi
Ubah nama, jabatan, bio, dan foto. Susunan ini tampil sebagai slide di halaman Redaksi. Anggota yang namanya kosong tidak ditampilkan.
Daftar Opini & Editorial Terbit
Diskon Belum Tentu Hemat: Ketika Promo Malah Membuat Kita Mengeluarkan Uang
Opini - Ajeng Dwi Kurniati -
Foto: Ilustrasi Gambar ( Sumber: https://www.pexels.com/photo/women-buying-clothes-on-sale-5622890/)
“Lumayan nih, lagi ada diskon” Kalimat yang sebenarnya cukup sederhana ketika kita melihat harga suatu barang turun, mulai dari pakaian, makeup, skincare, makanan maupun barang lainnya. Kata “diskon” seolah bisa menarik kita untuk membeli barang tersebut, padahal barang itu tidak ada di dalam rencana sebelumnya.
Harga Rp150.000 menjadi Rp100.000, kita merasa mendapatkan keuntungan Rp50.000. Padahal, pertanyaan yang sering dilupakan adalah “kalau barang tersebut tidak dibutuhkan, apakah kita benar-benar menghemat Rp50.000?”
Menurut saya, inilah kejadian yang sering terjadi dalam mengelola keuangan. Kita hanya fokus pada besarnya potongan harga yang berhasil “dihemat” dari harga asli, tanpa menghitung berapa uang yang sebenarnya sudah kita keluarkan dari dompet.
Diskon memang menjadi kesempatan bagi kita untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah. Tetapi, diskon juga menjadi alasan seseorang membeli sesuatu di luar rencananya. Akhirnya bukan karena barang tersebut dibutuhkan, hanya saja karena harganya yang sayang untuk dilewatkan.
Misalnya, seseorang pergi ke mall tetapi tanpa rencana ia malah membeli pakaian karena melihat tulisan “Diskon 50%”. Harga awal Rp300.000 menjadi Rp150.000, lebih murah dari harga asli dan sayang untuk dilewatkan sampai akhirnya ia memutuskan untuk membeli. Setelah sampai di rumah, ternyata pakaian tersebut mirip dengan beberapa model pakaian yang sudah dimiliki.
Secara perasaan ia merasa menghemat Rp150.000. Padahal sederhananya, uang Rp150.000 tetap keluar. Jika pakaian tersebut tidak dibutuhkan, sebenarnya tidak ada penghematan. Yang ada malah pengeluaran yang terlihat seperti penghematan.
Fenomena ini semakin mudah terjadi ketika kita berbelanja secara online, promo muncul setiap saat dari aplikasi belanja, media sosial maupun lainnya. Ada potongan harga, gratis ongkir, voucher, cashback serta tawaran lainnya dengan batas waktu tertentu.
Kalimat “cuma hari ini” ataupun “tinggal beberapa jam lagi” bisa membuat kita harus segera mengambil keputusan. Padahal, tidak semua keputusan keuangan harus dibuat secara terburu-buru.
Masalahnya bukan pada potongan harga ataupun promonya. Mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan harga yang murah memang menguntungkan. Lain halnya jika kita mengubah sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan seolah-olah dibutuhkan hanya karena diskon, hal inilah yang menjadi persoalannya.
Dalam manajemen keuangan, kemampuan mengelola keuangan bukan hanya bagaimana cara mendapatkan uangnya, tetapi juga bagaimana cara menggunakan uang tersebut berdasarkan prioritas. Oleh karena itu, sebelum tergoda oleh diskon, kita harus kembali pada pertanyaan sederhana “apakah barang ini memang dibutuhkan?”.
Pertanyaan lainnya bisa dengan “apakah saya sudah merencanakan pembelian ini”, “apakah saya sudah memiliki barang ini di rumah?”, “jika tidak ada diskon apakah saya akan tetap membeli?”. Jika jawabannya hampir semua “tidak”, mungkin yang menarik bukan barangnya melainkan diskonnya.
Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap kata “hemat”. Hemat bukan tentang membeli barang dengan potongan harga yang besar. Hemat berarti menggunakan uang sesuai kemampuan dan kebutuhan kita masing-masing.
Hal yang sama berlaku untuk promo makanan, membeli makanan karena promo “buy one get one” memang terlihat murah dibandingkan membeli satu dengan harga normal. Namun, jika akhirnya makanan tersebut tidak habis atau sebenarnya tidak ingin dibeli, promo tersebut malah membuat pengeluaran bertambah.
Pada akhirnya, menjadi konsumen yang cerdas tidak harus menghindari diskon, tetapi juga mampu mengelola keuangannya sesuai kebutuhan dan tidak menjadikan kata “diskon” sebagai pembenaran untuk berbelanja. Sebab, diskon hanya mengurangi harga barang, bukan mengurangi pengeluaran kita. Kita tetap boleh menikmati promo, membeli sesuatu yang diinginkan, ataupun untuk melalukan self-reward.
Mungkin ini saatnya kita berhenti berpikir “potongan harga berapa persen?” dan mulai memikirkan “apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”. Karena terkadang, keputusan finansial yang paling hemat adalah bukan membeli barang saat sedang murah, melainkan tidak membeli sesuatu hanya karena sedang murah.
BREAKING NEWSInvestigasi gabungan diperluas pasca penahanan di kawasan perbatasan strategis.
KONTRATERORISME
Polisi Inggris menangkap tersangka 'penting' di dekat pangkalan udara AS, kunci perang melawan Iran.
Kepolisian Gloucestershire menyatakan insiden besar ketika tim penjinak bahan peledak Angkatan Darat memeriksa kendaraan di dekat pangkalan... (Klik untuk membaca lengkap)
Evaluasi Protokol Pengamanan Wilayah dan Perimeter Fasilitas Vital
Analisis mendalam mengenai kesiapsiagaan operasional aparat pengamanan kawasan.
Pertemuan Tingkat Tinggi Bahas Kebijakan Pengawasan Koridor
Alokasi penanganan potensi ancaman lintas wilayah mulai dirumuskan.
Geopolitik Migas: Negosiasi Koridor Pasokan Alternatif Menjelang Kuartal Baru
Kondisi jalur maritim mendorong sejumlah negara mempercepat diversifikasi rute impor energi nasional.
Audit Infrastruktur Kritis Diperketat Pasca Anomali Jaringan Radar Udara
Kementerian Pertahanan memperbarui sertifikasi proteksi data seluruh simpul kendali lalu lintas udara.
Pilihan Redaksi & Analisis
Anatomi Kerentanan Wilayah Udara: Bagaimana Pangkalan Militer Menghadapi Spionase Modern
Laporan investigasi mendalam mengulas metode pengawasan berteknologi baru, strategi perimeter, serta risiko instabilitas di kawasan transit penting.
GLOUCESTERSHIRE — Kepolisian setempat telah menahan seorang tersangka kunci di dekat pangkalan militer yang kerap dimanfaatkan bersama oleh armada Amerika Serikat dan Inggris[span_9](start_span)[span_9](end_span). Penahanan ini menyusul laporan aktivitas mencurigakan yang terdeteksi di sekitar perimeter pengamanan[span_10](start_span)[span_10](end_span).
Saksi mata melaporkan bahwa sejumlah kendaraan patroli bersenjata lengkap diterjunkan ke lokasi sekitar pukul 05.00 waktu setempat, disertai penutupan jalan-jalan arteri yang mengarah ke pintu gerbang fasilitas penerbangan tersebut[span_11](start_span)[span_11](end_span).
Pangkalan udara ini diketahui memiliki peran strategis dalam rantai logistik dan operasi udara lintas kawasan di Timur Tengah[span_12](start_span)[span_12](end_span). Menanggapi perkembangan tersebut, pihak berwenang menegaskan bahwa investigasi intensif tengah dilakukan[span_13](start_span)[span_13](end_span).
Anders Hagstrom
Koresponden Pertahanan & Investigasi Petang Republik